SUMENEP, Suarapres.net – Cinta sering dipahami sebagai perasaan. Padahal, dalam kehidupan bersama, cinta seharusnya lebih dari sekadar rasa. Cinta adalah pertanggungjawaban kepada sesama. Ketika seseorang mengaku mencintai bangsa, tanah air, dan Pancasila, maka cinta itu seharusnya terlihat dari cara ia memperlakukan manusia lain.
Inilah yang semestinya menjadi perenungan pada Hari Kesaktian Pancasila.
Pancasila tidak hanya mengajarkan bagaimana seseorang mencintai negaranya, tetapi juga bagaimana manusia bertanggung jawab terhadap manusia lainnya. Di dalamnya terdapat penghormatan terhadap martabat manusia, persatuan, musyawarah, dan keadilan sosial.
Karena itu, cinta tidak boleh berhenti pada kata-kata.
Mencintai sesama berarti tidak membiarkan orang lain kehilangan haknya. Mencintai perbedaan berarti tidak menjadikan perbedaan sebagai alasan untuk merendahkan. Mencintai bangsa berarti bersedia menjaga persatuan, bahkan ketika kepentingan pribadi harus dikesampingkan.
Pada titik itulah cinta berubah menjadi tanggung jawab.
Seseorang yang mencintai Indonesia tidak cukup hanya mengatakan bahwa dirinya nasionalis. Ia harus bertanya kepada dirinya sendiri: apa yang sudah dilakukan untuk orang lain?
Apakah kehadirannya memberi manfaat atau justru menambah luka?
Apakah keputusan yang diambil hanya menguntungkan dirinya atau juga mempertimbangkan kepentingan masyarakat?
Pertanyaan-pertanyaan itu penting karena kehidupan berbangsa pada dasarnya adalah kehidupan bersama.
Kita tidak hidup sendirian. Setiap tindakan memiliki akibat bagi orang lain. Karena itu, kebebasan harus berjalan bersama tanggung jawab, hak harus berjalan bersama kewajiban, dan cinta harus berjalan bersama kepedulian.
Hari Kesaktian Pancasila menjadi momentum untuk mengingat kembali hal tersebut.
Pancasila akan kehilangan makna apabila hanya menjadi hafalan yang dibacakan setiap tahun. Ia justru menemukan kekuatannya ketika nilai-nilainya hadir dalam tindakan sederhana. menghormati tetangga, membantu yang membutuhkan, tidak menyebarkan kebencian, menerima perbedaan, berlaku adil, dan mau bergotong royong.
Itulah cinta yang sesungguhnya.
Cinta bukan sekadar mengatakan “aku peduli”, tetapi bersedia mengambil tanggung jawab ketika orang lain membutuhkan kepedulian.
Pada akhirnya, kesaktian Pancasila bukan hanya soal bagaimana mempertahankan sebuah dasar negara. Kesaktiannya juga terletak pada kemampuan nilai-nilainya membentuk manusia yang menyadari bahwa hidup bersama selalu menghadirkan tanggung jawab kepada sesama.
Sebab mencintai Indonesia berarti bersedia bertanggung jawab atas kehidupan orang lain di dalamnya.
Dan mungkin, di situlah cinta menemukan maknanya yang paling dalam: bukan tentang apa yang kita dapatkan dari sesama, melainkan tentang apa yang bersedia kita berikan kepada sesama.
Penulis : Frinanda










