Sumenep, Suarapers.net – Ajang balap tradisional Kerapan Kambing Piala Madura 2025 sukses digelar pada Minggu, 31 Agustus 2025, di Desa Tanjung, Kecamatan Saronggi, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Acara ini menjadi salah satu perhelatan budaya paling dinanti masyarakat Madura, sekaligus simbol kekuatan kearifan lokal yang terus hidup dan berkembang.
Pembukaan Penuh Warna Budaya
Acara dibuka secara meriah dengan penampilan Tari Mung Sangkal, tarian khas Madura yang melambangkan penyambutan, keselamatan, dan rasa syukur. Kehadiran tari ini menjadi pembuka yang sakral sekaligus memikat bagi ratusan penonton yang memadati arena kerapan sejak pagi.
Acara ini turut dihadiri oleh berbagai unsur pemerintahan dan tokoh masyarakat, antara lain:
. Dinas Ketenagakerjaan Kabupaten Sumenep
. Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP)
. Kapolsek Saronggi
. Forpimka Kecamatan Saronggi
Eko Kurnia Mediantoro, Kepala Bidang Penempatan Dinas Ketenagakerjaan Sumenep, menyampaikan bahwa ajang seperti ini patut mendapatkan dukungan penuh karena berdampak langsung terhadap sektor ekonomi masyarakat.
“Kegiatan seperti ini sangat positif. Tidak hanya menjaga warisan budaya lokal, tapi juga menggerakkan sektor informal, UMKM, dan membuka lapangan kerja sementara. Ini bentuk nyata dukungan terhadap kegiatan berbasis kearifan lokal yang mampu meningkatkan daya saing daerah,” ujarnya.
Ia juga menyinggung bahwa sebelumnya telah ada program padat karya produktif dari kementerian yang menyasar sektor peternakan, pertanian, dan perikanan. Ajang seperti ini dianggap sebagai lanjutan dari semangat memberdayakan potensi desa secara berkelanjutan.
144 Ekor Kambing Bersaing Perebutkan Piala dan 12 Hadiah Motor
Sebanyak 144 ekor kambing dari berbagai kabupaten di Madura ikut serta dalam perlombaan ini. Para peserta memperebutkan Piala Bergilir Piala Madura dan hadiah utama sepeda motor Honda PCX.
Ajang ini tidak hanya menjadi tontonan menarik, tapi juga berkontribusi besar terhadap perputaran ekonomi lokal, khususnya di Kecamatan Saronggi, dan menjadi sarana silaturahmi antar peternak kambing se-Madura.
Antusiasme masyarakat sangat tinggi. Ribuan penonton memadati arena perlombaan, menciptakan suasana yang penuh semangat, kebersamaan, dan kekeluargaan. Tak hanya menjadi hiburan rakyat, Kerapan Kambing juga menjadi ruang pelestarian budaya dan mempererat identitas orang Madura.
“Ini bukan sekadar lomba, tapi soal harga diri dan kebanggaan sebagai orang Madura,” ujar Dayat, peserta asal Kecamatan Bluto.
Menurut Dayat, mempersiapkan kambing untuk ajang ini bukan perkara mudah. Dibutuhkan dedikasi tinggi, mulai dari pola makan khusus, latihan fisik rutin, hingga ritual dan doa dari sesepuh desa.
“Kami rawat seperti atlet. Ada doa khusus juga agar kambing kami diberi kekuatan dan keberuntungan,” ungkapnya dengan bangga.
Hal senada juga disampaikan oleh Junaidi, peserta lainnya, yang menekankan bahwa mengharumkan nama desa adalah motivasi terbesarnya.
“Bertanding di sini sudah jadi kebanggaan tersendiri. Bisa membawa nama baik desa, itu lebih penting daripada hadiahnya,” ucap Junaidi.
Bagi para peserta, Kerapan Kambing bukan hanya sekadar tradisi, melainkan bagian dari jati diri dan warisan budaya yang terus diturunkan dari generasi ke generasi. Ajang ini adalah bukti bahwa budaya dapat berjalan seiring dengan pembangunan dan pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal.













