Suarapers.net – Ada kalanya Allah mengambil seseorang dari hidup kita bukan karena Allah ingin melihat kita terluka, tetapi karena Allah tahu sesuatu yang tidak kita ketahui.
Kita mungkin merasa kehilangan orang yang paling kita cintai. Kita menangis dalam diam, bertanya mengapa hubungan yang sudah diperjuangkan harus berakhir. Kita merasa sudah memberikan yang terbaik, tetapi pada akhirnya tetap harus menerima sebuah perpisahan.
Namun, sebagai manusia, kita hanya bisa melihat apa yang ada di depan mata. Sedangkan Allah mengetahui seluruh perjalanan hidup kita.
Apa yang menurut kita kehilangan, bisa jadi sebenarnya adalah perlindungan. Apa yang menurut kita akhir, bisa jadi justru awal dari kehidupan yang lebih baik.
Tidak semua yang kita inginkan adalah yang terbaik menurut Allah.
Terkadang kita begitu keras mempertahankan seseorang, sementara Allah sedang mengajarkan kita tentang ikhlas. Kita meminta agar dia tetap tinggal, tetapi Allah justru membuka jalan agar kita belajar melepaskan.
Ikhlas memang tidak mudah.
Ikhlas bukan berarti hati tidak sakit. Ikhlas adalah ketika hati yang masih terluka tetap berkata, “Ya Allah, jika dia bukan yang terbaik untukku, aku ridha dengan keputusan-Mu.”
Jangan terus mempertanyakan mengapa dia pergi. Serahkan sesuatu yang tidak mampu kita kendalikan kepada Allah.
Jika memang dia adalah bagian dari takdir kita, sejauh apa pun dia pergi, Allah mampu mempertemukan kembali dengan cara yang baik.
Namun jika dia bukan bagian dari masa depan kita, percayalah bahwa Allah tidak pernah keliru dalam menetapkan takdir.
Maka jangan mengejar seseorang sampai kita lupa mengejar ridha Allah.
Jangan menangisi kepergian seseorang sampai kita lupa bahwa Allah selalu ada.
Manusia bisa pergi. Janji bisa berubah. Perasaan bisa hilang. Tetapi Allah tidak pernah meninggalkan hamba-Nya.
Mungkin hari ini kita belum memahami alasan di balik sebuah perpisahan. Tetapi suatu hari nanti, ketika hati sudah sembuh, kita mungkin akan berkata:
“Ya Allah, ternyata keputusan-Mu jauh lebih indah daripada apa yang dulu aku inginkan.”
Karena terkadang, cara Allah menyelamatkan kita bukan dengan memberikan apa yang kita minta, tetapi dengan mengambil sesuatu yang terlalu kita cintai agar hati kita kembali kepada-Nya.
Maka jika hari ini harus kehilangan pasangan, jangan kehilangan Allah.
Menangislah jika memang perlu. Bersedihlah jika hati belum mampu menerima. Tetapi setelah itu, bangkitlah dan serahkan semuanya kepada Allah.
Sebab sesuatu yang ditakdirkan untuk kita tidak akan pernah tertukar, dan sesuatu yang memang bukan milik kita tidak akan pernah bisa kita pertahankan selamanya.
Pada akhirnya, ikhlas bukan tentang berhenti mencintai seseorang.
Ikhlas adalah ketika kita memilih percaya kepada Allah, meskipun hati belum memahami jalan yang sedang Dia pilihkan untuk kita.
Penulis : Rianturi
Editor : Frinanda













