Example floating
Example floating
BeritaOpini

Aku Masih Mencintainya

22
×

Aku Masih Mencintainya

Sebarkan artikel ini
Foto : Rudi Kurniawan berjalan kaki menyusuri jalan di kawasan wisata Park 3 Soekarno, Kecamatan Junrejo, Kota Batu, Jawa Timu timur, Jumat (3/10/2026).

SUMENEP, Suarapers.net – Ada orang yang datang ke dalam hidup kita dengan cara yang sederhana. Tanpa kita sadari, kehadirannya perlahan menjadi begitu berarti.

Awalnya hanya seseorang yang kita kenal. Lalu menjadi teman bercerita, tempat berbagi keluh kesah, sampai akhirnya menjadi seseorang yang selalu kita cari ketika hari terasa berat.

Example 300x600

Begitulah awal ceritaku dengannya.

Aku tidak pernah merencanakan untuk mencintainya. Perasaan itu tumbuh begitu saja, dari hal-hal kecil yang bagi orang lain mungkin tidak berarti apa-apa. Dari percakapan yang berlangsung hingga lupa waktu, perhatian sederhana, tawa yang muncul tanpa alasan, dan rasa nyaman yang perlahan membuatku takut kehilangan.

Sampai pada suatu titik, aku sadar bahwa dia bukan lagi sekadar seseorang dalam hidupku. Dia sudah menjadi bagian dari hidupku.

Aku mulai terbiasa dengan kehadirannya. Terbiasa mendengar ceritanya, menunggu kabarnya, dan membayangkan banyak hal tentang masa depan bersamanya. Saat itu aku percaya, mungkin inilah orang yang akan tinggal.

Aku tidak tahu bahwa tidak semua orang yang kita cintai ditakdirkan untuk menetap.

Waktu berjalan dan semuanya mulai berubah. Hal-hal yang dulu terasa begitu dekat perlahan menjadi jauh. Percakapan tidak lagi sama. Perhatian mulai berkurang. Ada jarak yang tumbuh di antara kami, meskipun tidak pernah benar-benar kami bicarakan.

Aku mencoba bertahan. Mencoba memahami perubahan itu, mencoba mengalah, mencoba memperbaiki keadaan, dan meyakinkan diri bahwa mungkin semuanya hanya sementara.

Tetapi semakin aku berusaha, semakin aku sadar bahwa sebuah hubungan tidak mungkin dipertahankan oleh satu orang saja.

Pada akhirnya, dia pergi. Dan aku masih tinggal bersama semua kenangan yang pernah kami buat.

Awalnya aku tidak tahu bagaimana harus menjalani hari-hari setelahnya. Ada kekosongan yang sulit dijelaskan. Aku tetap melakukan banyak hal seperti biasa, tetap bertemu orang lain, tetap tertawa, tetap menjalani kehidupan.

Namun ada bagian dari diriku yang tertinggal di masa lalu.

Aku sering bertanya, kenapa seseorang yang dulu begitu dekat bisa berubah menjadi seseorang yang bahkan untuk sekadar menanyakan kabarnya pun terasa begitu sulit?

Apakah dia masih mengingatku? Apakah dia pernah merindukanku? Apakah ada satu malam saja ketika dia terdiam dan mengingat semua yang pernah kami lalui?

Aku tidak pernah mendapatkan jawabannya. Mungkin pernah. Mungkin juga tidak. Dan semakin lama, aku belajar bahwa tidak semua pertanyaan harus memiliki jawaban.

Aku pernah mencoba melupakannya. Sungguh. Aku menjauh dari hal-hal yang mengingatkanku kepadanya. Mencoba membuka lembaran baru dan menjalani hidup seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Tetapi melupakan seseorang tidak semudah menghapus percakapan atau berhenti menyebut namanya.

Kenangan punya caranya sendiri untuk kembali. Kadang melalui sebuah lagu. Kadang melalui tempat yang pernah kami datangi. Kadang hanya melalui hal kecil yang tiba-tiba membuatku teringat pada dirinya.

Dan setiap kali itu terjadi, aku kembali menyadari bahwa perasaan itu belum benar-benar hilang.

Aku tidak sedang menunggu dia kembali. Aku hanya belum berhasil membuat hatiku berhenti mencintainya.

Mungkin terdengar menyedihkan, tetapi itulah kejujuran yang akhirnya harus kuakui pada diriku sendiri: aku masih mencintainya.

Bukan berarti aku ingin memaksanya kembali. Bukan berarti aku ingin mengganggu kehidupannya. Aku hanya tidak ingin lagi berbohong pada diri sendiri seolah semuanya sudah tidak berarti.

Aku mulai memahami bahwa sembuh bukan berarti melupakan. Sembuh mungkin berarti mampu mengingat tanpa lagi berharap semuanya kembali seperti dulu.

Ada orang yang kita temui untuk menemani perjalanan panjang. Ada pula yang hanya berjalan bersama kita untuk sebagian perjalanan, lalu memilih jalan yang berbeda.

Dia mungkin adalah bagian dari perjalanan yang tidak bisa kulanjutkan. Tetapi bukan berarti perjalanan itu tidak berarti.

Yang paling sulit justru menerima kenyataan bahwa orang yang masih kita cintai bisa melanjutkan hidup tanpa kita. Bukan tentang kehilangan seseorang secara fisik, tetapi kehilangan tempat kita di dalam hidupnya.

Dulu aku tahu ke mana harus pulang ketika merindukannya. Sekarang aku hanya bisa menyimpan rindu itu sendiri.

Tidak lagi ada pesan yang bisa kukirim. Tidak lagi ada percakapan panjang yang bisa kucari.

Yang tersisa hanyalah kenangan dan doa yang diam-diam masih kusebut. Aku berharap dia baik-baik saja. Menemukan kebahagiaan yang selama ini dia cari.

Karena pada akhirnya aku mengerti, mencintai seseorang tidak selalu berarti harus memilikinya. Kadang mencintai berarti menerima bahwa seseorang telah memilih jalan lain, lalu belajar untuk tidak membencinya karena pilihan itu.

Jika suatu hari takdir mempertemukan kami kembali, apa pun yang terjadi, aku ingin menerima.

Aku hanya ingin menyimpan kisah ini sebagai bagian dari hidupku. Sebuah kisah tentang seseorang yang pernah kucintai dengan sungguh-sungguh. Seseorang yang pernah menjadi rumah, meskipun akhirnya aku harus belajar pulang ke diriku sendiri.

Mungkin suatu hari nanti aku akan benar-benar berhenti merindukannya. Mungkin suatu hari namanya hanya akan menjadi kenangan yang bisa kuingat tanpa rasa sakit.

Tetapi untuk sekarang, aku memilih untuk jujur. Aku masih mencintainya. Bukan untuk memilikinya kembali. Hanya karena ada perasaan yang belum selesai, dan aku sedang belajar berdamai dengannya.

Sebab terkadang, orang yang paling sulit kita lepaskan bukanlah orang yang paling lama bersama kita, melainkan orang yang meninggalkan jejak paling dalam.

 

Penulis : Rudy Kurniawan

Editor   : Frinanda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *